Dua bulan di awal 2000-an, untuk sebuah kegiatan sosial, saya terdampar di sebuah desa di ujung timur Timor Leste. Di Kampung Baduro, salah satu pelosok Distrik Lautem, tak ada hiburan modern yang dapat dinikmati warga. Tak ada listrik -- tentu jangan bicara televisi dan internet, pun tak ada bahan bacaan rutin. Angkutan pedesaan menuju Lospalos, ibukota distrik yang berjarak 1,5 jam perjalanan, hanya hadir sekali sehari.
Praktis, hiburan murah meriah bagi para anak muda putus sekolah dan petani ladang di sana adalah olahraga. Sepakbola, menjadi katarsis utama bagi mereka yang terdera kemiskinan. Miro Baldo Bento de Araujo saat itu dikenal sebagai pesepakbola Indonesia sebelum 2005 memutuskan membela Timor Leste, menjadi pahlawan mereka. Miro mencetak tiga gol untuk timnas asuhan (almarhum) Rusdy Bahalwan di Piala Tiger 1998, kini dikenal sebagai Piala AFF, pada turnamen yang sama saat tim Merah Putih terekam jejak kotor sepakbola gajah melawan Thailand.
Di lapangan berpasir samping gereja yang nyaris tak berumput, anak-anak muda macam Joao, Mario, dan Ferdinand seperti tak sabar menanti sore datang. Kala akhir pekan tiba, kami menuju Pantai Com yang indah. Di sana anak-anak baru gede itu menendang bola di atas lapangan pasir, tak ubahnya Philippe Coutinho kecil menari-nari di Pantai Copacabana.
Kegembiraan memuncak saat tiba waktunya digelar laga sepakbola antarkabupaten. Kami pun berbondong-bondong menuju Lospalos, dengan menumpang truk pasukan perdamaian PBB asal Korea. Secuil tanah di sudut Pulau Timor itu menjanjikan wajah-wajah antusias anak-anak yang gila bermain bola. Urusan skill nanti dulu, tapi semangat dan kerja keras mereka berbicara lebih dari teori.
Kenangan 15 tahun lalu sudah berubah drastis. Kini, Republik Demokratik Timor Leste mencatat babak baru dalam sejarah sepakbola profesional mereka dengan lahirnya Liga Futebol Amadora (LFA). Tak tanggung-tanggung, Presiden Eksekutif LFA dijabat Nilton Gusmao, keponakan presiden dan legenda Timor Leste Xanana Gusmao, yang dikenal sebagai salah satu orang terkaya negeri berpenduduk 1,2 juta jiwa itu. Selain pengusaha di bidang tranportasi dan konstruksi, Nilton menjadi orang pertama di negara itu yang mendapat lisensi mengoperasikan tv kabel.
"Saya bahagia melihat pertandingan sepakbola dihidupkan kembali di negeri ini. Ini mimpi terbesar paman saya (Xanana Gusmao)," kata Nilton.
Digelar sejak Februari lalu, 21 tim menjalani babak prakualifikasi, dengan 12 klub terbaik akan berada di divisi tertinggi pada musim pertama LFA.
posted by

No comments:
Post a Comment